Jumat, 16 November 2012

AL-FANA, AL-BAQA, ITTIHAD, AL-HULUL dan WAHDAT AL-WUJUD


AL-FANA, AL-BAQA, ITTIHAD, AL-HULUL dan WAHDAT AL-WUJUD
Makalah Dibuat untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Akhlak Tasawuf

 


Disusun oleh :
Mohammad Syahid Ramdhani (1112051000070)

JURUSAN Komunikasi Penyiaran Islam
FAKULTAS Dakwah dan Komunikasi
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2012


BAB I
PENDAHULUAN
Akhlak Tasawuf merupakan disiplin ilmu murni dalam Islam. Akhlak dan Tasawuf mempunyai hubungan yang sangat erat. Sebelum bertasawuf, seseorang harus berakhlak sehingga bisa dikatakan bahwasanya At tashawwufu nihayatul akhlaq sedangkan al-akhlaqu bidayatut tashawwuf. Dalam tasawuf, digunakan pendekatan suprarasional yaitu dengan intuisi / wijdan. Intuisi disini maksudnya adalah mengosongkan diri dari dosa. Dalam makalah ini kami akan membahas tentang AL-FANA, AL-BAQA, ITTIHAD, AL-HULUL dan WAHDAT AL-WUJUD  yang merupakan salah satu komponen dari akhlak tasawuf
LATAR BELAKANG
Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan lebih jelas tentang AL-FANA, AL-BAQA, ITTIHAD, AL-HULUL dan WAHDAT AL-WUJUD sehingga teman-teman bisa mempelajarinya dengan lebih mudah.
TUJUAN
Didalam makalah ini baik pemakalah maupun pembaca mampu lebih mendalami dan mengetahui antara AL-FANA, AL-BAQA, ITTIHAD, AL-HULUL dan WAHDAT AL-WUJUD sehingga pemakalah maupun pembaca mendapatkan pengetahuan lebih banyak lagi.



BAB II
PEMBAHASAN
AL-FANA, AL-BAQA dan ITTIHAD
A.     PENGERTIAN, TUJUAN DAN KEDUDUKAN AL-FANA, AL-BAQA DAN AL-ITTIHAD
      Dari segi bahasa al-fana berarti hilangnya wujud sesuatu. Fana berbeda dengan al-fasad
(rusak). Fana artinya tidak tampak sesuatu, sedangkan rusak adalah berubahnya sesuatu kepada sesuatu yang lain. Dalam hubungan ini Ibn Sina ketika membedakan antara benda-benda yang bersifat samawiyah dan benda –benda yang bersifat alam, mengatakan bahwa keberadaan benda alam itu atas dasar permulaany, bukan atas dasar perubahan bentuk yang satu kepada bentuk yang lainnya, dan hilangnya benda alam itu dengan cara fana, bukan cara rusak!.
      Adapun artinya fana menurut kalangan sufi adalah hilangnya kesadaran pribadi dengan dirinya sendiri atau dengan sesuatu yang lazim digunakan pada diri. Menurut pendapat lain, fana berarti bergantinya sifat-sifat kemanusiaan dengan sifat-sifat yang tercela.
      Dalam pada itu Mustafa Zahri mengatakan bahwa yang dimaksud fana adalah lenyapnya indrawi atau kebasyariahan, yakin sifat sebagai manusia biasa yang suka pada syahwat dan hawa nafsu. Orang yang telah diliputi hakikat ketuhanan, sehingga tiada lagi melihat daripada alam baharu, alam rupa dan alam wujud ini, maka dikatakan ia telah fana dari alam cipta atau dari alam makhluk. Selain itu fana juga dapat berarti hilangnya sifat-sifat buruk (maksiat) lahir batin.
      Sebagai akibat dari fana adalah baqa. Secara harfiah baqa berarti kekal, sedang menurut yang dimaksud para sufi, baqa adalah kekalnya sifat-sifat terpuji, dan sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia. Karena lenyapnya (fana) sifat-sifat basyariah, maka yang kekal adalah sifat-sifat ilahiah. Dalam istilah tasawuf, fana dan baqa datang beriringan, sebagai mana dinyatakan oleh para ahli tasawuf :

“Apabila tampaklah nur kebaqaan, maka fanalah yang tiada, dan baqa lah yang kekal”

Tasawuf ituialah mereka fana dari dirinya dan baqa dengan tuhannya, karena kehadiran hati mereka bersama Allah.
      Dengan demikian, dapatlah dipahami bahwa yang dimaksud dengan fana adalah lenyapnya sifat-sifat basyariah, akhlak yang tercela, kebodohan dan perbuatan maksiat dari diri manusia. Sedangkan baqa adalah kekalnya sifat-sifat ketuhanan, akhlak yang terpuji, ilmu pengetahuan dan kebersihan diri dari dosa dan maksiat. Untuk mencapai baqa ini perlu
dilakukan usaha-usaha seperti bertaubat, berzikir, beribadah, dan menghiasi diri dengan akhlak yang terpuji.
      Selanjutnya fana yang dicari oleh orang sufi adalah penghancuran diri (al-fana ‘an al-nafs), yaitu hancurnya perasaan atau kesadaran tentang adanya tubuh kasar manusia. Menurut al-Qusyairi, fana yang dimaksud adalah:

“Fana seseorang dari dirinya dan dari makhluk lain terjadi dengan hilangnya kesadaran tentang dirinya dan tentang makhluk lain itu, sebenarnya dirinya tetap ada dan demikian pula makhluk lain ada, tetapi ia tak sadar lagi pada mereka dan pada dirinya”.

      Kalau seorang sufi telah mencapai al-fana al-nafs, yaitu kalau wujud jasmaniah tak ada lagi (dalam arti tak disadarinya lagi), maka yang akan tinggal ialah wujud rohaniah. Menurut Harun Nasution, kelihatannya persatuan dengan Tuhan ini terjadilangsung setelah tercapainnya al-fana al-nafs. Tak ubahnya dengan fana yang terjadi ketika hilangnya kejahilan, maksiat dan kelakuan buruk diatas. Dengan hancurnya hal-hal ini yang langsung tinggal (baqa) ialah pengetahuan, takwa dan kelakuan baik.
       Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa yang dituju dengan fana dan baqa ini adalah mencapai persatuan secara rohaniah dan batiniah dengan Tuhan, sehingga yang didasari hanya Tuhan dalam dirinya.
      Adapun kedudukannya adalah merupakan hal, karena hal yang demikian tidak terjadi terus-menerusdan juga karena dilimpahkan oleh Tuhan. Fana merupakan keadaan dimana seorang hanya menyadari kehadiran tuhan dalam dirinya, dan kelihatan lebih merupakan alat jembatan atau maqam menuju ittihad (penyatuan rohani dengan tuhan).
      Berbicara fana dan baqa ini erat hubungannya dengan al-ittihad, yakni penyatuan batin atau rohaniah dengan Tuhan, karena tujuan dari fana dan baqa itu sendiri adalah ittihad itu. Hal yang demikian sejalan dengan pendapat Mustafa Zahri yang mengatakan bahwa fana dan baqa tidak dapat dipisahkan dengan pembicaraan paham ittihad. Dalam ajaran itihad sebagai salah satu metode tasawuf sebagai dikatakan oleh al-Badawi, yang dilihat hanya satu wujud sungguhpun sebenar-benarnya yang ada dua wujud yang berpisah dari yang lain karena yang dilihat dan yang dirasakan hanya satu wujud, maka dalam ittihad ini bisa terjadi pertukaran peranan antara yang mencintai (manusia) dengan yang dicintai (tuhan) ataau tegasnya antara sufi dan Tuhan.
      Dalam situasi ittihad yang demikian itu, seorang sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan, suatu tingkatan dimana yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu, sehingga salah satu dari mereka dapat memanggil yang satu dengan kata-kata: “Hai Aku”.
      Dengan demikian jika seorang sufi mengatakan misalnya “maha suci aku”, maka yang dimaksud aku disitu bukanlah sufi sendiri, tetapi sufi yang telah bersatu batin dan rohaninya dengan Tuhan, melalui fana dan baqa.
B.  TOKOH YANG MENGEMBANGKAN FANA
      Dalam sejarah tasawuf, Abu Yazid Al-Bustami disebut sebagai sufi yang pertama kali memperkenalkan faham fana dan baqa. Nama kecinya adalah Thaifur. Nama beliau sangat istimewa dalam hati kaum sufi seluruhnya.Ketika Abu Yazid telah fana dan mencapai baqa maka dari mulutnya keluarlah kata-kata yang ganjil, yang jika tidak hati-hati memahami akan menimbulkan kesan seolah-olah Abu Yazid mengaku dirinya sebagai tuhan padahal sesungguhnya ia tetap manuisia  biasa, yaitu manusia yang mengalami pengalaman bathin bersatu dengan tuhan. Diantara ucapan ganjilnya ialah: “tisdak ada tuhan melainkan saya. Sembahlah saya, amat sucilah saya, alngkah besarnya kuasaku.”Selanjutnya Abu Yazid Mengatakan “Tidak ada tuhan selain aku, maka sembahlah aku, Maha Suci Aku, Maha Besar Aku.”    
      Selanjutnya diceritakan bahwa: seseorang lewat dirumah Abu yazid dan mengetuk pintu. Abu Yazid bertanya:” siapa yang engkau cari?” Jawabnya:”Abu Yazid.” Lalu Abu Yazid mengatakan: “pergilah”. Dirumah i ni tidak ada kecuali Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi.”Ucapan yang keluar dari mulut abu yazid itu, bukanlah kata-katanya sendiri tetapi kata-kata itu diucapkannya melalui diri tuhan dalam Ittihad yang dicapainya dengan tuhan. Dengan demikian sebenarnya Abu Yazid tidak mengaku dirinya sebagai tuhan.
C.  FANA DAN BAQA DAN ITTIHAD DALAM PANDANGAN AL-QURAN
      Fana dan Baqa merupakan jalan menuju Tuhan, hal ini sejalan dengan firman Allah surat Al-kahfi ayat 10 yang berbunyi:
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.”( Q. S. Al-Kahfi, 18: 110).
      Paham ittihad ini juga dapat dipahami dari keadaan ketika Nabi Musa ingin melihat Allah. Musa berkata: “Ya Tuhan, bagai mana supaya aku sampai kepada-Mu?” Tuhan berfirman: Tinggalah dirimu (lenyapkanlah dirimu) baru kamu kemari (bersatu).
      Ayat tersebut memberi petunjuk bahwa Allah swt. telah memberi peluang kepada manusia untuk bersatu dengan Tuhan secara rohaniyah atau bathiniyah, yang caranya antara lain dengan beramal shaleh, dan beribadat semata-mata karena Allah, menghilangkan sifat-sifat dan akhlak buruk (Fana), meninggalkan dosa dan maksiat, dan kemudian menghias diri dengan sifat-sifat Allah, yang kemudian ini tercakup dalam konsep Fana dan Baqa, hal ini juga dapat dipahami dari isyarat ayat di bawah ini:
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Q.S. Al-Rahman: 26-27).

BAB III
AL HULUL
A.        PENGERTIAN, TUJUAN DAN KEDUDUKAN HULUL
      Secara harifah hulul berarti Tuhan mengambil tempat dalam tubuh manusia tertentu, yaitu manusia yang telah dapat melenyapkan sifat-sifat kemanusiannya melalui fana. Menurut keterangan Abu Nasr al-Tusi dalam al-Luma sebagai dikutip Harun Nasution, adalah paham yang mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat didalamnya setelah kemanusiaan dalam tubuh itu dilenyapkan.
      Sebelum Tuhan menjadikan makhluk, Ia hanya melihat diri-Nya sendiri. Allah melihat pada zatnya sendiri dan Ia pun cinta pada zatnya sendiri, dan cinta inilah yang menjadi sebab wujud dan sebab dari banyaknya ini.
      Al-hallaj berkesmimpulan bahwa dalam diri manusia terdapat sifat ketuhanan (lahut) dan dalam diri Tuhan terdapat sifat ketuhanan (nasut). Jika sifat ketuhanan pada diri manusia menyatu dengan sifat kemanusian pada diri Tuhan maka terjadilah Hulul.
      Berdasarkan uraian tersebut  diatas, maka al-hulu dapat dikatakan sebagai suatu tahap dimana manusia dan Tuhan menyatu secara Rohaniah. Dalam hal ini hulul pada hakikatnnya istilah lain dari al-ittihad sebagaimana telah disebutkan diatas.
       Tujuan dari hulul adalah ketuhanan (lahut) menjelma kedalam diri insane (nasut) dan hal ini terjadi pada saat kebatinan seseorang insane telah suci bersih dalah menempuh perjalanan hidup kebatinan.
B.         TOKOH YANG MENGEMBANGKAN PAHAM AL-HULUL
      Sebagaimana telah disebutkan diatas, bahwa tokoh yang mengembangkan paham al-hulul adalah al-hallaj. Nama lengkapnya adalah Husein Bin Mansur al-Hallaj. Ia lahir tahun 244 H. (858 M), dinegri Baidha, salah satu kota kecil yang terletak di Persia. Dia tinggal sampai dewasa di Wasith, dekat Baghdad, dan dalam usia 16 tahun ia sudah belajar pada seorang sufi yang terbesar dan terkenal bernama Sahl bin Ab-bashrah di Negri Ahwaz.
Dalam paham al-Hulul yang dikemukakan al-Hallaj tersebut ada dua hal yang dapat dicatat. Pertama, bahwa paham al-hulul merupakan pengembangan.


BAB IV
WAHDAT AL-WUJUD
A.        PENGERTIAN DAN TUJUAN WAHDAT AL-WUJUD
      Wahdat al-wujud adalah ungkapan yang terdiri dari dua kata, yaitu wahdat dan al-wujud. Wahdat artinya sendiri, tunggal, atau kesatuan, sedangkan al-wujud artinya ada. Dengan demikian wahdat al-wujud berarti kesatuan wujud. Kata wahdah selanjutnya digunakan untuk arti yang bermacam-macam. Dikalangan ulama kalasik ada yang mengartikan wahdat sebagai sesuatu yang zatnya tidak dapat dibagi-bagi pada bagian yang lebih kecil. Selain itu kata al-wahdah digunakan pula oleh para ahli filsafat dan sufistik sebagai suatu kesatuan antara materi dan roh, substansi (hakikat) dan forma (bentuk), antara yang tampak (lahir) dan yang batin, antara alam dan Allah, karena alam dari segi hakikatnya qadim dan berasal dari tuhan. Pengertian wahdatul wujud yang terakhir itulah yang selanjutnya digunakan para sufi, yaitu paham bahwa antara manusia dan Tuhan pada hakikatnya adalah satu kesatuan wujud.
      Selanjutnya paham ini juga mengambil pendirian bahwa dari kedua aspek batin atau al-haqq yang merupakan hakikat, esensi atau subtansi. Paham ini selanjutnya membawa kepada timbulnya paham bahwa antara makhluk (manusia) dan al-haqq (Tuhan) sebenernya satu kesatuan dari wujud Tuhan, dan yang sebenernya ada adalah wujud Tuhan itu, sedangkan wujud makhluk hanya baying atau foto copy dari Tuhan.
      Dalam wujud lain uraian falsafah ini dapat dikemukakan sebagai berikut. Bahwa makhluk yang dijadikan Tuhan dan wujudnya bergantung kepadanya, adalah sebagai sebab dari segala yang berwujud selain Tuhan. Tuhanlah yang sebenarnya yang memiliki wujud hakiki atau yang wajibul wujud. Sementara itu makhluk sebagai yang diciptakannya hanya mempunyai wujud yang bergantung kepada wujud yang berada pada dirinya, yaitu Tuhan. Dengan kata lain yang mempunyai wujud sebenernya Tuhan dan wujud yang dijadikan ini sebenernya tidak mempunyai wujud. Yang mempunyai wujud sesungguhnya hanyalah Allah.
      Paham Wahdatul Wujud tersebut mengisyaratkan bahwa pada manusia ada unsure lahir dan batin dan pada tuhanpun ada unsur lahir dan batin. Dalam wahdatul wujud ini yang terjadi adalah bersatunya wujud batin manusia dengan wujud lahir tuhan. Dengan cara demikian maka paham wahdatul wujud ini tidak menggagu zat Tuhan dan dengan demikian tidak akan membawa keluar dari islam.
Selanjutnya jika kita buka Al-qur’an, didalamnya akan dijumpai ayat-ayat yang memberikan petunjuk bahwa Tuhan memilki unsur zahir dan batin. Misalnya kita membaca ayat yang artinya berbunyi:
Dialah yang awal dan yang ahir yang zahir dan yang batin, dan Dia maha mengetahui segala sesuatu. (QS. AL-HADID, 57;3)
Dan menyempurnakan untukmu ni’matnya lahir dan batin (QS. LUQMAN, 31:20)
Selanjutnya uraian tentang wujud manusia sebagai bergantung kepada wujud Tuhan sebagaimana dikemukakan diatas dapat dipahami bahwa manusia adalah sebagai makhluk yang butuh dan fakir, sedangkan Tuhan adalah sebagai yang Maha Kaya. Paham yang demikian sesuai pula dengan isyarat ayat yang artinya berbunyi:
Hai manusia, kamulah yang berkhendak kepada Allah, dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.(QS. FATHIR, 35:15)
Namun dalam pandangan sufi bahwa yang dimaksud dengan zahir adalah sifat-sifat Allah yang tampak, sedangkan yang batin adalah zat-Nya. Manusia dianggap mempunyai unsure tersebut karena manusia berasal dari pancaran Tuhan. Selanjutnya pada ayat 31 surat Luqman di atas dinyatakan bahwa yang lahir dan batin itu merupakan nikmat yang dianugrahkan Tuhan kepada Manusia. Ayat yang demikian itu jelas bahwa pada manusia juga ada unsur Lahir dan Batin.
B.         TOKOH YANG MEMBAWA PAHAM WAHDATUL WUJUD
      Paham wahdatul wujud dibawa oleh Muhyidin Ibn Arabi yang lahir di Murcia, Spanyol di tahun 1165. Setelah selesai studi di Seville, beliau pindah ke Tunis di tahun1145, dan disana ia masuk aliran sufi. Di tahun 1202 M. Ia pergi ke Mekkah dan meninggal di Damaskus tahun1240 M. Selain sebagai sufi, beliau juga dikenal sebagai penulis yang produktif. Menurut Hamka, Ibn Arabi dapat disebyt sebagai orang yang telah sampai pada puncak wahdatul wujud. Dia telah menegakan pahamnya dengan berdasarkan renungan fikiran dan filsafat dan zauq tasawuf. Ia menyajikan ajaran tasawufnya dengan bahasa yang agak berbelit-belit dengan tujuan untuk menghindari tuduhan, fitnah dan ancaman kaum awam. Baginya wujud (yang ada) itu hanya satu. Wujudnya makhluk adalah ‘ain ujud khaliq. Pada hakikatnya tidaklah ada pemisah antara manusia dan Tuhan. Kalau dikatakan berlainan antara khalik dan makhluk itu hanyalah lantaran pendeknya paham dan akal dalam mencapai hakikat

 PENUTUP
 Kesimpulan
Fana adalah proses menghancurkan diri bagi seorang sufi agar dapat bersatu dengan Tuhan. Sedangkan Baqa adalah sifat yang mengiringi dari proses fana dalam penghancuran diri untuk mencapai ma’rifat. Secara singkat, Fana adalah gugurnya sifat-sifat tercela, sedangkan Baqa adalah berdirinya sifat-sifat terpuji. Adapun tujuan Fana dan Baqa adalah mencapai penyatuan secara ruhaniyah dan bathiniyiah dengan Tuhan sehingga yang disadarinya hanya Tuhan dalam dirinya. Sedangkan kedudukan Fana dan Baqa merupakan hal. Dalam sejarah tasawuf, Sufi yang pertama kali memperkenalkan paham Fana dan Baqa adalah Abu Yazid al-Bustami. Ittihad adalah kondisi penyatuan hamba dengan tuhannya, setelah melalui peniadaan diri, penyaksian, penemuan zat dengan rasa kenikmatan yang luar biasa, maka ini juga yang disebut kebahagiaan yang tinggi atau kebahagiaan yang sempurna. Hulul diartikan sebagai penyatuan hamba dengan tuhannya, setelah zatNya melebur kedalam tubuh hambaNyan Wihdatu al-wujud yaitu kesatuan dari dua wujud yang berbeda yaitu wujud pencipta atau tuhan (al-khaliq)dan wujud ciptaan atau hamba (al makhluq).      Wahdat al-wujud adalah ungkapan yang terdiri dari dua kata, yaitu wahdat dan al-wujud. Wahdat artinya sendiri, tunggal, atau kesatuan, sedangkan al-wujud artinya ada. Dengan demikian wahdat al-wujud berarti kesatuan wujud. Kata wahdah selanjutnya digunakan untuk arti yang bermacam-macam.


DAFTAR PUSTAKA
NATA, Abuddin. Akhlak Tasawuf. Jakarta: Rajawali Pers, 2010.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar